Badaruddin Amir: Ramadhan, Covid-19, dan Dua Surat Kontroversi Daerah Kami

Penyair Barru
Badaruddin Amir (foto: Badaruddin Amir)

Pandemi covid-19 atau yang dikenal dengan nama keren “Corona” (artinya “Mahkota”) tampaknya memang belum menunjukkan gejala akan surut atau ‘mengalah”. “Perang” terhadap virus corona pun terus dikibarkan. Berbagai elemen bangsa ikut terlibat dalam satu tekad: lawan corona hingga tuntas.

Bahkan poster-posterpun dipasang di sudut-sudut jalan untuk menggalang tekad melawan corona hingga tuntas.

Nah, inilah persoalannya. Kita sedang berperang melawan sesuatu benda “abstrak” yang tak kasat mata. Banyak di antara kita punya pengalaman “berperang” dan mencatat kemenangan, seperti para pejuang di zaman penjajahan, atau para politikus di zaman sekarang. Tetapi lawan-lawannya bukan virus si mahluk kecil yang andai dapat kelihatan hanya sekali injak pasti akan remuk itu.

Virus Corona yang penampakannya mirip buah rambutan yang lagi musim, berwarna merah dengan sungut-sungut bermahkota, bukannya lezat dan manis. Tatapi ia agresif menawarkan aroma kematian. Virus ini terus saja berkeliaran di mana-mana bagaikan zombie mencari mangsa.

Satu dimusnahkan yang lain hidup mengejawantah menciptakan zombie baru. Saat menemu kesempatan yang baik ia akan menyergap mangsanya tanpa pandang bulu. Maka terberitakanlah dari hari ke hari korban pandemi corona covid-19 semakin menggila.

Baca juga:

Rekapitulasi penularan atau korban pandemi corona dari sumber-sumber resmi, secara global penyebarannya tercatat sudah mencapai 313 negara dengan korban terkonfirmasi sebanyak 2.631.839 dan kematian akibat corona sebanyak 182.100. Itu data terkonfirmasi di WHO pertanggal 24 April 2020, 08:00 GMT.

Sedang di negara kita Indonesia tercatat positif corona 8,211, yang sempat sembuh sebanyak 1,002 dan yang Innalillahi wa’innailahi rojiun sebanyak 689. Bisa dibayangkan betapa mengerikannya kasus pandemi ini.

Dalam tiga abad mungkin belum pernah terjadi kasus pandemi sedahsyat ini. Hanya dalam hayal pada tahun 1940 di Aljazair, daerah koloni Perancis, Albert Camus pernah menulis novel epidemi “Sampar” (La Peste) yang menggemparkan banyak pembaca di dunia lantaran menakutkannya. Corona yang pandemi, jauh lebih dahsyat dari “sampar” yang hanya disebut epidemi.

Dan seandainya virus corona bisa dilihat seperti zombie yang berkeliaran mencari mangsa seperti di film-film horor itu, maka saya yakin korban 10 orang saja akan membuat bulu kuduk berdiri dan tak ada lagi yang berani berkeliaran keluar rumah.

Bahkan mungkin banyak di antara kita lebih memilih mati kelaparan di dalam rumah dari pada ke luar rumah mencari makan. Tetapi karena corona tak kelihatan dan kita bangsa yang tak percaya pada hal-hal yang bersifat “gaib” (tidak kelihatan) maka banyak di antara kita yang cuek saja. Sama cueknya ketika para udztas atau ulama menyampaikan amalan-amalan baik yang pahalanya nanti akan diterima di akhirat.

Sekarang kita sudah memasuki bulan suci Ramadhan. Harapan kita umat Islam, corona sudah pergi agar kita dapat melaksanakan ibadah Ramadhan secara sempurna tanpa ketakutan.

Tetapi ternyata tidak. Corona ikut pula memasuki bulan Ramadhan sehinga membuat kita ‘semua unsur’ ikut kelimpungan dibuatnya.

Berbagai pertanyaan menggaruk kepala: bagaimana sholat tarawih, sholat Jumat, sholat Id nantinya yang biasanya dilaksanakan di masjid atau tempat-tempat terbuka untuk berjamaah bisa dilaksanakan? Sementara berkumpulnya massa ‘sebagaimana yang kita ketahui’ adalah kondisi yang sangat rentan untuk penularan virus corona. Dikatakan rentan karena tak ada yang bisa mengetahui adakah di antara kita yang telah terinfeksi virus corona ikut berjamaah atau tidak.

MUI dan Pemerintah telah bersepakat mengatur pelaksanaan beribadah baik di luar Ramadhan maupun sepanjang Ramadhan melalui imbauan. Beberapa pekan sebelum memasuki bulan Ramadhan telah keluar edaran pemerintah pusat, kemudian edaran Gubernur dan Bupati-Bupati tentang peniadaan sholat Jumat di Masjid dan pelaksanaan ibadah lain yang dapat melibatkan orang banyak.

Imbauan itu ditangkap sebagai “bola panas” oleh sebagian orang yang tidak memahami hakikat dari sebuah imbauan. Bahkan ada pula yang membenturkannya pada ayat-ayat Alquran atau hadis Nabi dan menganggapnya sebagai upaya pendangkalan aqidah dan mencari-cari alasan kontraperseptif: seperti masjid ditutup tapi pasar tidak !

Pandangan-pandangan pribadi seperti ini muncul karena, seperti yang dikatakan di awal tadi bahwa kita sedang berperang melawan sesuatu yang tak kasat mata. Andaikata lawan kita adalah benar-benar zombie misalnya, maka sudah pasti tak akan ada yang berani berpendapat berbeda kecuali mengurung diri di rumah dengan ketakutan.

Dua surat terkait Ramadhan dan Covid-19

Sekarang kita sudah berada diawal Ramadhan dalam imbauan pemerintah untuk tetap menjalankan ibadah-ibadahnya di rumah saja (Stay at home). Status “Sosial Distancing” yang dikeluarkan pemerintah demi kemaslahatan bersama memang tak ada pengecualian untuk bulan suci sekalipun.

Karena covid-19, dalam perumpamaan neologisme bukanlah kawan orang Islam yang tak akan mengganggu di bulan suci Ramadhan. Tapi dia adalah lawan untuk semua orang. Karena itu Mekah sebagai pusat Islam telah mengimbau sholat tarwih dilaksanakan di rumah masing-masing dan tak ada aktivitas keagamaan di masjid-masjid yang biasanya pada bulan Ramadhan bukan main ramainya.

Juga negara-negara islam lain seperti Mesir, Irak dan Iran, otoritas pemerintahnya sudah melarang melaksanakan kegiatan bulan Ramadhan di masjid-masjid.

Kita di Indonesia bagaimana? Imbauan dari otoritas pemerintah pun melarang sebagaimana yang dikeluarkan melalui Surat Edaran Menteri Agama no. 6 Tahun 2020 tentang Panduan Ibadah Ramadhan dan Idul Fitri 1 Syawal, 1441 H di Tengah Pandemi Wabah Covid-19. Surat Edaran yang menjadi salah satu dasar pula untuk mengeluarkan Surat Edaran Gubernur Sulawesi Selatan No. 450/2715/B.Kesra, tentang Himbauan kepada Masyarakatdi Provinsi Sulawesi selatan terkait Pelaksanaan Kegiatan Keagamaan di Sulawesi Selatan, yang kemudian juga menjadi salah satu dasar pertimbangan keluarnya “Maklumat Bersama” yang dikeluarkan oleh Bupati Barru tanggal 23 April 2020 dan ditandatangani oleh sejumlah lembaga resmi dan lembaga-lembaga yang berkompeten terhadap hal tersebut, kecuali MUI Kab. Barru.

Tapi kita di Barru, di daerah yang masih berstatus zona kuning memang ada pula yang berpandangan lain. Kuning itu adalah warna yang belum merah. Antara yang belum terinfeksi dan yang terinfeksi virus corona mungkin saja masih lebih banyak yang belum terinfeksi.

Bahkan dalam catatan resmi belum ada yang positif terinfeksi karena di daerah kita masih tercatat hanya sebagai ODP dan kebanyakan kita masih tercatat sebagai orang-orang tanpa gejala (OTG).

Tetapi itu tidak berarti bahwa kita sudah bisa berleha-leha dan berbuat semaunya tanpa harus mendengarkan imbauan pemerintah lagi. Karena virus corona covid-19 yang agresif ini terus juga berjalan mencari mangsa seperti zombie. Mereka yang datang (pendatang) harus “dicurigai” sebagai orang-orang yang rawan membawa virus ke daerah kita. Karena itu mereka harus diperiksa secara ketat agar mereka tak menjadi “agen” dari virus mematikan ini. Karena itu mengindahkan Maklumat Bersamamemang merupakan kewajiban kita. Menyampaikan imbauan itu secara benar kepada masyarakat juga menjadi kewajiban kita bersama.

MUI Kab. Barru memang tidak ikut bertandatangan pada Maklumat Bersama yang dikeluarkan oleh Bupati Barru, tetapi sebagai lembaga independen telah mengeluarkan pandangan sendiri melalui Pandangan Syar’i bernomor 02/PS/MUI-BR/IV/2020 yang dikeluarkannya pada tanggal 22 April 2020 dengan poin-poin penting yang tidak berbeda dengan apa yang tertulis pada Maklumat Bersama yang dikeluarkan oleh Bupati Barru maupun Edaran Gubernur dan Menteri Agama.

Dan Pandangan Syari’iy ini memang bukanlah imbauan umum untuk diindahkan. Secara etimologi pandangan syari’iy artinya cara pandang atas sebuah persoalan keagamaan. Hakikat syar’i atau syari’ah adalah aturan atau ketetapan yang Allah perintahkan kepada hamba-hamba-Nya, seperti: puasa, shalat, haji, zakat dan berbuat kebaikan. Kata syariat berasal dari kata syar’a al-syai’u yang berarti menerangkan atau menjelaskan sesuatu.

Jadi MUI Barru telah menjelaskan dengan sebaik-baik penjelasan tentang pelaksanaan syariat peribadatan. Tentunya di sana akan dikutif ayat-ayat Alquran dan hadis Nabi yang berkaitan dan kitalah yang menginterpretasi, mengkajinya.

Nah di sinilah peliknya. Karena banyak diantara kita yang tak mengkaji itu, tetapi meyakini saja bahwa apa yang dikatakan oleh MUI itulah yang harus dilaksanakan sebagai sebuah kebenaran yang datangnya dari Allah. Pendapat ini memang betul, tetapi sebagai manusia yang diberikal akal oleh Allah SWT untuk berpikir (Homo Sapiens) pikiran jugalah yang harus memutuskan.

Dari dua edaran (Maklumat Bersama Bupati Barru dan Pandangan Syari’iy MUI Barru) seharusnya tidak ada yang dipertentangkan di dalamnya karena pada hakikatnya memiliki pandangan dasar yang sama. Yang berbeda hanya pada Pandangan Syari’y MUI Barru ada poin 3 mengatakan : “3. Bagi orang yang berada pada wilayah zona aman pandemik covid-19, maka wajib melaksanakan sholat Jumat seperti biasanya.” Juga ada pada point 6 yang mengatakan : “6. Bagi masjid dan oknum yang menyelenggarakan shalat Jumat, sebagaimana pada poin ke 3 diatas maka dibolehkan juga untuk melaksanakan shalat jamaah termasuk Ibadah Ramadhan dan lainnya.”

Kedua poin ini memang berkaitan dan keduanyalah yang menjadi “suara lain” yang menjadi pembeda dari Edaran yang dikeluarkan oleh pemerintah. Tetapi seperti yang dikatakan bahwa ini adalah pandangan Syari’iy.

Tanpa melemahkan Pandangan Syari’iy Udstas Aydi Syam dosen Syariah STAI DDI Mangkoso dari Pesantren DDI Tonronge menjelaskan, yang intinya sebagai berikut:

(1) Pandangan Syar’iy MUI itu tidak bersifat instruksi. Jadi, tidak boleh dibenturkan dengan Maklumat Pemerintah karena itu bersifat instruksi,

(2) Pandangan Syar’iy itu bersifat pencerahan. MUI adalah lembaga independen yang memiliki otoritas untuk memberi pencerahan terkait dengan pemahaman Syariat Islam kepada seluruh elemen umat karena ini adalah tanggung jawab dunia-Akhirat, maka mesti disuarakan secara murni oleh MUI apa adanya. Pencerahan itu tidak memiliki konsekuensi hukum duniawi dari MUI bagi yang mematuhi & yang tidak mematuhi. Itu adalah semata-mata pilihan untuk umat & tanggung jawab masing-masing sebagai seorang hamba di hadapan YM Kuasa,

(3) Ulama & Umara di Barrru, Insya Allah tidak berseberangan secara prinsip hanya berbeda pendapat secara konsep. Ulama & Umara kita semua berpihak pada kemaslahatan umat.

Banyak masyarakat yang terjebak pada poin 3 dan 6 dari pandangan MUI Kab. Barru ini karena tidak mencermati poin-poin lainnya secara sistematis dan nalar yang baik. Padahal setelah poin 3 poin 6 dari pandangan syari’iy MUI Barru ini ada poin 5 dan 7 yang seolah-olah sebagai kelanjutan penjelasan dari dua poin tersebut. Marilah kita melihat poin 5 dan 7 dan mendiskusikannya.

Pada poin 5 dikatakan: “5. Bagi Orang yang berstatus ODP (Orang dalam pantauan), PDP (Pasien dalam pengawasan) dan OTG (Orang tanpa gejala) ketika berpotensi kuat untuk menularkan wabah covid-19, maka boleh meninggalkan shalat Jumat demi kemaslahatan jamaah lain dengan tetap melaksanakan shalat Dzuhur di tempat masing-masing dengan cara yang sesuai potokol kesehatan.”

Sedangkan pada poin 7 mengatakan :7. Bagi masjid yang tetap melaksanakan Sholat Jumat serta kegiatan ibadah lainnya wajib dijaga strelisasinya dan jamaahnya, dengan menjaga kebersihannya dan membentuk satgas untuk membatasi orang dari luar wilayahnya mengikuti kegiatan dalam mesjid/musallah tersebut.”

Kedua poin penjelasan ini banyak yang tidak mencermatinya dengan betul. Padahal jelas dikatakan di sana bahwa bahkan orang tanpa gejala (status OTG) ketika berpotensi untuk menularkan wabah covid-19 boleh meninggalkan shalat Jumat demi kemaslahatan jamaah lain dengan tetap melaksanakan shat Dzuhur di tempat masing-masing dengan cara yang sesuai protokol kesehatan.

Pertanyaannya adalah: adakah di antara kita yang menjamin dirinya tidak berpotensi kuat menularkan covid-19 setelah daerah kita juga ditetapkan sebagai zona kuning? Kebanyakan kita hanya memiliki kepercayaan (anggapan) bahwa kita belum terinfeksi karena belum batuk-batuk, belum sesak nafas dan sebagainya. Tetapi secara medis tak pernah kita deteksi diri.

Paling-paling kita hanya mengetahui bahwa panas tubuh kita masih normal setelah melewati perbatasan dan sempat dicegat petugas covid-19 di sana. Dan tak ada yang bisa menjamin dirinya tidak berpotensi karena dari waktu ke waktu kita selalu berhubungan dengan orang lain –meski hanya keluarga kita sendiri—tapi tak ada jaminan bahwa keluarga kita itu tak pernah bersentuhan dengan orang lain baik secara langsung maupun melalui perantara, misalnya memegang benda yang pernah dipegang mereka seperti uang dsb.

Kemudian pada poin 7, masjid yang dibolehkan melaksanakan sholat Jumat dan ibadah-ibadah lainnya seperti Tarawih diwajibkan menjaga strilisasinya dan jamaahnya, kebersihannya dan diwajibkan membentuk satgas untuk membatasi orang dari luar wilayahnya mengikuti kegiatan mesjid tersebut.

Pernahkah kita membayangkan bagaimana menjaga sterilisasi bagi sebuah kuman? Semacam virus yang lebih kecil dari perumpamaan “zarrah” itu?

Masjid memang gampang dibersihkan, orang asing/orang luar juga gampang diusir meski pastilah akan menimbulkan masalah karena mereka menganggap tak ada yang bisa menghalangi siapapun juga untuk masuk ke rumah Tuhan.

Dan satgas juga gampang dibentuk karena banyak masjid sudah memiliki remaja masjid atau panitia. Tapi persoalannya apa sih sesungguhnya yang dilarang masuk ke dalam masjid itu? Ia bukan maling yang kasat mata. Ia adalah …kita sudah tahu semua Covid-19 dan bagaimana cara peredarannya dari satu orang ke orang lain.

Akan lebih baik kita tanyakan kepada ahli medis saja apakah virus dapat dihalangi masuk dengan menggunakan satgas, satpam, dan satuan tugas corona sendiri.

Dan lihatlah apa yang dapat dilakukan oleh orang-orang yang bernama Satgas, Satpam dsb itu di banyak tempat.

Mereka bisa menangkap maling, tapi yang kecil-kecil semisal nyamuk saja tak dapat dicegahnya masuk ke masjid, apalagi virus yang 10.000 kali lebih kecil dari nyamuk. Kita harus memahami bahwa orang asing/orang luar yang datang pada komunitas kita belum tentu mengantongi virus corona-19 dan orang dalam atau orang sekampung belum tentu “TIDAK” atau belum terinpeksi virus.

Semuanya punya potensi yang sama untuk tertular dan menularkan virus corona. Tapi orang kampung tak dapat diusir dari kampungnya sendiri, sedang orang lain yang datang dapat saja dicegah masuk. Maka yang dapat kita lakukan sebagai orang buta, hanya melarang orang luar memasuki komunitas kita, dengan catatan pelik seperti tadi bahwa tanpa orang luar masuk orang dalam pun dapat saling membagi virus sebagai oleh-oleh dari persentuhan dengan orang luar baik langsung maupun tak langsung.

Payahnya karena banyak diantara kita yang tak mengapresiasi semua ini dengan baik. Virus tak kasat mata karena itu banyak yang tak takut padanya, sedang singa kasat mata dan banyak orang yang takut. Sehingga Presiden Rusia Vladimir Putin konon melepas 8000 singa untuk mengusir orang-orang yang tidak takut pada cororona dan berani saja berkeliaraan di jalan-jalan. Demikian pula cambuk, banyak di antara kita lebih takut pada cambuk dari pada keganasan corona sehingga Malaysia terpaksa menjambuki orang-orang yang berkeliaran di jalan dan masih berani berkumpul di Masjid untuk sholat padahal sudah diperintahkan oleh pemerintahnya untuk melaksanakan ibadah di rumah masing-masing.

Sementara menyangkut instruksi-instruksi atau imbauan pemerintah, ada pula yang melontarkan kecurigaan bahwa tidak ikutnya MUI menandatangani “Maklumat Bersama” yang dikeluarkan Bupati Barru karena MUI Barru tidak setuju dengan keputusan tersebut. Tudingan seperti ini tentu saja sudah berlebihan karena tidak mempelajari dengan baik sebuah proses.

Kemarin ada pula teman diskusi di facebook yang pada akunnya adalah mantan Mahasiswa DDI Mangkoso mengatakan bahwa Tarawih tetap dilaksanakan di Mangkoso, Kita tahu bahwa Mangkoso adalah daerah pesantren dan tempat tinggal ketua MUI Barru. Ini juga adalah bagian dari sebuah kesalahpahaman yang harus diluruskan.

Entah benar entah hoax, informasi-informasi seperti ini telah bersileweran di media sosial tapi intinya mereka tak membaca dan tak memahami.

Seperti juga di kampung saya, awalnya panitia masjid tetap ngotot untuk melaksanakan shalat tarawih yang sudah jelas bertentangan dengan imbauan pemerintah, tapi ada alternatif dengan “imbauan” dari MUI Barru (ia menyebut Pandangan Syar’iy MUI Barru sebagai imbauan), bahwadaerah yang tidak terjangkit corona tetap wajib melaksanakan Sholat Jumat dan ibadah-ibadah lainnya dan saya segera melakukan konfirmasi kepada Kepala Kelurahan kami sebagai lembaga terdekat dan ia memberikan penjelasan dengan baik.

Adapun penjelasan itu antara lain mengatakan hal tersebut telah dikonfirmasi pihak MUI kepada Depag bahwa harus mengacu kepada pemerintah (dalam hal ini kepada Maklumat Bersama) dan menyangkut tak ikutnya MUI Barru menandatangani Maklumat Bersamaitu, karena dasar dari maklumat itu tetap pada Keputusan MUI sebelumnya yang masih berlaku hingga sekarang. Jadi secara prosedural MUI Barru tak perlu lagi ikut menandatangani. Itu penjelasan dari Lurah kami, konon. Wallahu a’lamu bissawab.

Barru, 2020

Penulis: Badaruddin Amir (Guru, Penyair, Jurnalis)

Komentar

Rekomendasi

Ini Tentang Jendela, Cinta, Kurir dan Penggugur Dosa Masa Lalu

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar