Ini Tentang Jendela, Cinta, Kurir dan Penggugur Dosa Masa Lalu

Kurir Langit
Kami adalah Kurir (foto:Mohan)

A’udzubillaahi minasyaithoonirrojiim Bismillahirrahmanirrahim

Saya mengenal Kurir Langit sejak Juli 2014, saat itu saya baru saja pulang dari penjelajahan separuh pulau Sumatera bersama brand sebuah perusahaan pestisida dan pupuk.

Saya resign dan menguatkan niat untuk meluruskan beberapa kebiasaan yang tak disadari bertentangan dengan pedoman hidup kita sebagai hambaNya.

Meninggalkan Bandar Lampung dengan salah satu niat ingin punya sebuah kegiatan yang beri manfaat bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga orang banyak.

Allah ternyata menunjukkan jalannya, tak sengaja (padahal inilah skenario Allah) saya bisa kenal Kurir Langit yang saat itu sedang getol-getolnya mengajak orang berbagi, lewat Gerakan Sedekah Kurir Langit.

Baca juga:

Menyusuri lorong-lorong, mendaki bukit-bukit demi mengusir jerit dhuafa yang kadang tak terlirik.

Menyebrangi sungai, menerobos lumpur demi mengantarkan jenazah ke tempat peristirahatan terakhir.

Menjadi kurir (sebutan untuk relawan) membuat saya harus merubah kebiasaan. Yang dulunya sering dilayani (saat masih jadi supervisor untuk 2 provinsi) berubah menjadi melayani.

Karena prinsip kurir adalah pelayan, pengantar rezeki para dhuafa yang Allah kirim dari langit.

Membersamai gerakan ini dari basis kumpul-kumpul di warkop, pelataran masjid hingga punya sekretariat ruko 2 lantai.

Dari punya satu ambulance hingga Allah kirimkan lagi ambulance kedua.

Bahkan menjadi saksi saat pertama kali gurunda Ustadz Luqmanulhakim berkunjung ke Barru dan ‘menampar-nampar’ kami tentang Peradaban besar yang harusnya tumbuh dari Masjid, bukan dari ruko atau warkop saja.

Tamparan yang buncahkan keberanian bangun masjid dengan modal NOL rupiah.

Dan menjadi Masjid Modern seperti yang nampak saat ini – bit.ly/masjidkurirlangitmaps

***

Masih betah jadi kurir hingga sekarang?

Jawabnya iya,

Karena dengan jadi kurir Allah pertemukan saya dengan sebuah jendela dunia yang selama ini saya anggap tak ada.

Kalau pun sering dipikirkan namun tak pernah dilongok, ditengok dan di pahami pesan dari sang jendela.

Dijendela ini dapat saya lihat ribuan anak yatim, pejuang Quran yang hidup di pondok dalam keterbatasan biaya.

Mereka yang kedudukannya disamping rasulullah seperti jari tengah dan telunjuk.

Mereka yang adalah keluarga Allah dibumi yang menjaga ayat-ayat Quran

Ternyata makan beras yang tak pulen, lauk kecap atau garam atau sekedar mie instant

Di jendela inilah dapat saya lihat Kek Rahman (Alm) yang tinggal bersama isterinya di gubuk yang hampir rubuh.

Tak punya pekerjaan lagi setelah becaknya kalah teknologi dengan ojek masa kini.

Dijendela ini dapat saya lihat keluarga Dek Umrah yang menumpang tinggal dirumah kerabat bersama ibu, adik, tante, dan sepupunya tanpa kepala keluarga yang berpenghasilan tetap.

Namun kegigihannya membuat saya berlinang air mata saat pertama kali mengikuti rute perjalanan yang sering ditempuhnya kesekolah dengan Jalan Kaki bila lagi tak punya ongkos.

Bukan jalan ramai, tapi sunyi dan terpencil.

Dijendela ini dapat saya lihat #KekTaere yang menyusuri hari-harinya digubuk empang tak terurus, bahkan dalam kondisi sakit kakek sebatangkara ini seringkali tidur bersama ayam-ayamnya.

Dijendela ini pula saya bisa melihat ketulusan seorang relawan yang mengurusi kakek sebatangkara selama 22 hari berada di rumah sakit dalam kondisi tak bisa bergerak, BAK dikateter, BAB diangkat atau pakai popok, makannya disuapi.

Dan bikin saya terenyuh dan merasa sangat kecil saat mengetahui orang tua dari sang relawan ini justru sedang sakit pula.

Namun karena terlanjur membersamai sang kakek, dia percayakan ibunya kepada sang adik, dengan keyakinan merawat kakek Taere disini sama seperti merawat orang tuanya, Allahlah yg akan menjaga beliau yang sakit dikampung.

Masya Allah..

Andai saya tak dipertemukan dengan jendela ini, pastilah saya hanya melihat semua dalam kondisi baik-baik saja.

Disinilah terlihat peluang menggugurkan dosa-dosa masa lalu dengan cara melayani dan membersamai mereka yang terlihat dari jendela tadi.

Membersamai dhuafa, fakir miskin, anak yatim, muallaf, fisabilillah.

Membersama para penghafal Quran dan merasakan percikan-percikan pahala dari mereka.

Dan semoga saja Allah berkenang menjadikannya penggugur dosa dimasa lalu.

Semoga Allah izinkan gerakan jalanan yang akhirnya Allah giring menjadi sebuah gerakan peradaban berbasis Masjid ini bisa menebar manfaat lebih banyak, lebih luas.

Mengukir senyum lebih banyak.Mencetak generasi Qurani sepanjang masa

Dan membuka peluang-peluang pahala kepada banyak orang.

Bilapun ada kebaikan yang hadir karena kehadiran saya bersama Kurir Langit, semoga bisa mengalirkan pahala dan kebaikan untuk kedua orang tua saya, dan keluarga besar saya.

6 tahun Kurir Langit,Merajut Cinta Merayakan Kepedulian.

Barru 27 April 2020

Mohan Muhammad

Komentar

Rekomendasi

Badaruddin Amir: Ramadhan, Covid-19, dan Dua Surat Kontroversi Daerah Kami

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar