Mengambil Hikmah dari Tragedi Sriwijaya SJ182, Andre Raditya: Bisa Saja Aku yang Rugi

Sriwijaya air
Ilustrasi Pesawat Sriwijaya Air (foto:ist)

Terkini.id, Klaten – Sebagai orang yang sering menggunakan moda transportasi udara. Saya merasakan kesedihan yang mendalam setiap ada berita kecelakaan pesawat terbang.

Bagi teman-teman yang pernah terbang atau sering, pasti akan merasakan hal sama. Betapa kita memahami, tatkala kita di atas, maka pilihannya cuma satu. Pasrah..

Kalau naik bus atau kereta api.. lalu bus dan kereta mogok, kita bisa turun ganti kendaraan.
Naik kapal, kita bisa lompat (bagi yang bisa berenang), atau naik sekoci..
Tapi kalau naik pesawat..??
Kita hanya bisa total berserah ke Allah atas apa yang akan terjadi..

Dan ketika mendengar kabar hilang kontaknya pesawat SJ-182, reaksi spontan saya adalah duka cita dan empati mendalam.

Membayangkan betapa kepanikan itu terjadi..
Detik-detik menuju jatuhnya pesawat yang ditumpangi..
Kita nih.. baru turbulensi saja kadang membuat jantung terasa mau copot, terlebih tatkala meluncur dari ketinggian 10.000 kaki.
Allah ya kariim.. Allahu akbar..

Saya terbayangkan apa yang terpikirkan oleh para penumpang..
Kilasan masa lalu, segala hal yang diperbuat dan bayangan wajah orang-orang terkasih..

Sepanjang malam sembari mendoakan..
Semoga masih ada kabar baik.. semoga ada kabar baik..

Saya berbicara dengan diri sendiri, sesekali berdoa..
“Ya Allah.. kasihan.. tolong ya Allah berikan kabar baik.”

Namun seiring menit berganti.. saya tiba-tiba tersadar. Dan berbalik mengasihani diri sendiri.

Saya berkata ke dalam hati..
“Ndre, bisa jadi mereka adalah orang yang beruntung..”

“Kok beruntung??”, sisi lain saya menjawab.

“Ya.. mereka beruntung, sebab diizinkan melihat gerbang mautnya (jika kemudian meninggal). Dan saat itu.. di detik-detik akhir dalam kepasrahan.. mereka diberi kesempatan bertaubat.
Dan yang paling penting, ada persiapan mereka yang beriman mengikrarkan “Asyahadu alla ilahaillallah wa Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah.” Yang belum tentu kita bisa sempat lakukan..”

Ya Allah.. Astaghfirullahal’adziim..

Bisa jadi kita adalah orang yang belum tentu diberi keistimewaan itu.. sedikit waktu untuk berikrar yang terakhir kalinya menegaskan keimanan kita kepada Alloh dan RasulNya..

Maka dari dulu..
Setiap terbang.. setelah duduk. Saya membaca Fatihah, dan syahadat.. lalu istighfar dan shalawat..
Setelah itu menjelang lepas landas saya berdoa doa perjalanan. Dan dilanjutkan dengan memasang earphone ke telinga yang terhubung dengan Mp3 player berisi murottal Bacaan Qur’an untuk saya perdengarkan sampai ke tujuan.

Untuk berjaga..
Agar saya termasuk yang mendapati diri mempersiapkan hal-hal baik di saat akhir jika Allah berikan takdir harus berpulang. Dan itu sedikit menentramkan hati di perjalanan.

Kawan.. akhirnya kita bisa mengambil hikmah dari kejadian ini, bahwa hidup hanyalah tentang mempersiapkan diri dengan bekal terbaik menuju pulang. Bukan untuk bersenang-senang atau berlaku seenaknya demi nafsu dunia yang fana.

Jika waktunya tiba.. hanya amal yang menjadi teman..
Dan tinggallah kebaikan yang akan dikenang..

Kawan.. Mari tetap kita berdoa..
Meski sudah ada rilis bahwa pesawat benar jatuh.. tapi tak ada salahnya kita tetap berdoa semoga ada kabar baik yang bisa kita dengar dari kejadian ini.. Dan seluruh keluarga penumpang dan kru diberikan kekuatan dan kesabaran. Saya ikut menyampaikan duka mendalam untuk seluruh keluarga penumpang dan kru.

Lahumul fatihah.. aamiin..

Salam,
Andre Raditya

Sumber: Facebook Andre Raditya. Minggu, 10 Januari 2021.

Konten Bersponsor

Berita lainnya

Rendy Saputra: PR Kita Masih Banyak, Potensi Zakat 217 T Raihan Masih 10 T

Ustadz Andre Raditya: Pak Dahlan, di Usia Tua Terbiasa Baca 10 Juz Tiap Hari

Penasaran, Banyak Pertanyaan Tentang Kurir Langit, Ini Jawabannya

Dokter Hisbullah: Yahh Betul Kami Dapat Keuntungan Dengan Mengelola Corona

Ini Tentang Jendela, Cinta, Kurir dan Penggugur Dosa Masa Lalu

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar