Episenter Gempa Kali Ini Berdekatan dengan Gempa Tsunami Tahun 1969, Warga Diharap Jauhi Pantai

Gempa mamuju
Dampak gempa, banyak bangunan bertingkat rubuh di Mamuju (foto:ist)

Terkini.id, Jakarta – Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati mengimbau masyarakat Majene dan sekitar Sulawesi Barat untuk menjauhi bibir pantai karena masih berpotensi terjadinya gempa susulan yang memungkinkan terjadinya tsunami.

Mengutip suaracom, jaringan terkini.id, Dwikorita menjelaskan daerah Sulawesi Barat khususnya Kabupaten Mamuju dan Kabupaten Majene sudah diguncang gempa sebanyak 28 kali, dengan dua magnitudo besar yaitu 5,9 dan 6,2 skala richter yang memungkingkan terjadinya longsor bawah laut.

“Kondisi batuan diguncang dua kali bahkan 28 kali, sudah rapuh dan pusat gempa ada di pantai. Nah memungkinkan untuk terjadinya longsor ke dalam laut atau longsor bawah laut sehingga masih atau dapat pula berpotensi terjadi tsunami apabila ada gempa susulan berikutnya dengan pusat gempa di pantai atau di pinggir laut,” kata Dwikorita Jumat 15 Januari 2021.

BMKG juga memprediksi potensi gempa susulan yang lebih besar berdasarkan analisis sejarah gempa bumi yang pernah terjadi di sekitar Sulawesi Barat pada 1969 silam.

“Kami menganalisis masih dimungkinkan adanya gempa susulan yang cukup kuat seperti dini hari tadi atau sedikit lebih tinggi lagi, masih dimungkinkan,” bebernya.

Episenter gempa hari ini terletak pada koordinat 2,98 LS dan 118,94 BT, atau tepatnya berlokasi di darat pada jarak 6 km arah TimurLaut Majene, Sulawesi Barat pada kedalaman 10 km.

Episenter hari ini sangat berdekatan dengan sumber gempa yang memicu tsunami dengan ketinggian 4 meter di Pelattoang dan 1,5 meter di Parasanga dan Palili pada 23 Februari 1969 silam dengan kekuatan M6,9 pada kedalaman 13 km.

Saat itu, tercatat 64 orang meninggal dunia, 97 luka-luka dan 1.287 bangunan mengalami kerusakan.

BMKG juga mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Kemudian menghindari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa.

Memeriksa dan memastikan bangunan yang ditinggali cukup tahan gempa, ataupun tidak ada kerusakan akibat getaran gempa yg membahayakan kestabilan bangunan sebelum kembali ke dalam rumah.

Konten Bersponsor

Berita lainnya

Gubernur Sul-Sel Ditangkap KPK, Begini Kronologinya

Co-Founder Mall Sampah dan Owner Ana Interior Jadi Pembicara Webinar Bisnis ITB Kalla

Peringati HPSN, InsWA Sampaikan 10 Hal ini

Ketua DPRD Sul-Sel Kunjungi Masjid Percontohan Nasional di Barru

SD Islam Athirah 2 Makassar Adakan Peringatan Isra’ Mi’raj Bersama Ustadz Abdul Somad

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar